Selasa, 05 Mei 2009

65% ASI DI DUNIA TELAH TERCEMAR

..."Data terbaru WHO memotret, paling tidak 20 ribu orang per tahun meninggal akibat keracunan pestisida. Sekitar 5000–10.000 orang per tahun terkena efek sampingnya, seperti menderita kanker, cacat tubuh, kemandulan, dan lever..."

Gaya Kartini berapi-api saat menyingkap potret tersebut. “65% ASI di dunia telah tercemar pestisida,” seru penemu pupuk organik “Kascing” yang belakang populer di kalangan petani di luar Bali itu, dalam forum diskusi terbatas yang digelar Bali Post di lantai III Gedung Bali Post, Jalan Kepundung Denpasar, belum lama ini. Biangnya dituding “sang ratu cacing” ini bersumber dari pengunaan pupuk pertanian anorganik.

Pertanian kita selama ini tak bisa jauh dari penggunaan pupuk buatan manusia tersebut. Celakanya, kandungan zat kimia yang terdapat dalam pupuk tersebut terbilang berada di luar ambang batas. “Efek zat kimia pupuk anorganik telah menimbulkan menyengat ibu menyusui,” keluh konsultan inkubator pestisida organik Pemerintah Provinsi Bali, ini.

Kilas balik coba digagas doktor lulusan Program Pascasarjana Unpad Bandung, ini. Pupuk kimia mulai dibumikan ke lahan petani kita sejak awal era 60-an. Namun, setahun uji coba ternyata membawa petaka. Hasil pertanian anjlok dan struktur tanah rusak.
Celakanya, program pemerintah itu berada di bawah gerakan Komando Operasional Makmur. Gerakan ini menginstruksikan secara intensif keharusan memakai pupuk kimia yang difasilitasi pemerintah.

Selain urea, ada pula ZA, dan TSP. “Inilah awal pembantaian pabrik pupuk alam yang tersimpan dalam tanah berupa makro maupun mikroorganisme,” sedihnya. Masygul di hati kecil Kartini kian membuncah. Saat mengamati penggunaan pupuk kimia, perempuan kelahiran Kubutambahan Buleleng ini penggunaan pestisida membuat produktivitas tanah pertanian jeblok. Pahitnya justru saat kartini menemukan potret menyedihkan menimpa para petani. “Petani sebagai pelaku dan masyarakat sebagai konsumen hasil pertanian yang memakai pupuk kimia justru teracuni pestisida,” sergahnya.

Parahnya, kata Kartini, ASI di seluruh dunia telah tercemar racun pupuk kimia tersebut. Sekitar 65 % racun pestisida telah menodai ASI kaum perempuan menyusui. “Ini data yang dikeluarkan WHO,” tegasnya. Ia mengingatkan jangan lekas terpukau dengan teknologi mutakhir pertanian. Kita harus berhitung risikonya bagi masa depan gennnnnerasi anak-anak masa depan.

Pestisida Sintesis
Namun, para petani kita justru tetap memilih beralih dari pestisida alam ke sintetis. Memang, ada keunggulan pestisida sintesis. “Pemakaiannya lebih mudah, lebih praktis, gampang diangkut serta disimpan, dan harga relatif murah,” jelas ahli pertanian FP Unud, Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M. Sc.

Tak pelak, pestisida sintesis pun naik daun di mata petani. Bahkan, awal era 90-an tercatat penggunaan pestisida sudah mencapai 20 ribu ton. Walau pestisida ini berguna untuk memberantas hama. Tapi, pencemaran lingkungan dan keracunan terhadap konsumennya pun tak kurang menjengkelkan.

Data terbaru WHO memotret, paling tidak 20 ribu orang per tahun meninggal akibat keracunan pestisida. Sekitar 5000–10.000 orang per tahun terkena efek sampingnya, seperti menderita kanker, cacat tubuh, kemandulan, dan lever.

Pestisida sintetis yang dipakai tanpa aturan menimbulkan kasus pencemaran air tanah. Manusia dan makhluk yang mengonsumsi air tanah ikut terkena getahnya. Makanan dan minuman tercemar.

Efek lainnya, serangga yang berguna untuk penyerbukan binasa (lebah), serangan hama yang jauh lebih berat dari sebelumnya, dan timbulnya kekebalan hama maupun patogen terhadap pestisida sintetis itu sendiri.

Dampak pestisida bagi petani dan pemakai dapat menyebabkan keracunan akut melalui kulit dan keracunan akut lewat pernapasan. Untuk uji keracunan akut lewat pernafasan biasanya dilakukan dengan sistem aliran udara statis atau dinamis. Konsentrasi pestisida yang terbawa udara akan tampak pada kondisi para petani...

===========

Sumber: http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=373

APA ITU DETOKS

Apakah anda pernah melakukan detoks?

Apa detoks itu?

Anda punya masalah sembelit, demam, flu, kelebihan berat badan, selulit, kadar kolesterol darah berlebihan, lesu kronis, penyakit/gangguan kulit, sindrom pramenstruasi, kehilangan gairah seks, penuaan dini, tumor, penyakit-penyakit degeneratif (hipertensi, stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, susah/ lama punya keturunan, kadar usam urat berlebihan, dll.), serta penyakit-penyakit infeksi yang tak kunjung sembuh? Tahukah Anda bahwa akar dari masalah-masalah tersebut adalah karena adanya timbunan ampas di tubuh Anda?

TOKSIN bukan hanya ampas dari makanan yang kita makan dan makanan-makanan yang tidak tercerna, tetapi juga bisa berasal dari zat makanan aditif, udara tercemar, bahan kimia seperti pestisida, logam berat dalam air minum, residu obat-obatan farmasi, dll. Bahkan pikiran dan emosi negatif juga merupakan racun bagi sel-sel tubuh kita. Semua ampas atau zat yang tidak diperlukan tubuh akan diperlakukan sebagai racun (toksin) atau penyakit. Ampas atau toksin juga diproduksi secara alamiah oleh tubuh kita sendiri. Ini merupakan proses metabolisme sehingga tidak dapat kita hindari. Setiap hari di dalam tubuh terjadi pembelahan sel-sel baru.

Sementara itu sel-sel yang sudah tua akan menjadi aus, mati, dan menjadi ampas. Dalam kondisi normal, ampas akan dikeluarkan secara teratur setiap hari melalui sistem pembuangan tubuh. Buang air besar setiap hari bukan jaminan bahwa proses pembuangan kita normal. Jika salah satu atau beberapa masalah tersebut merupakan keluhan Anda, berarti pengeluaran ampas dari tubuh Anda belum optimal! Penyakit terjadi apabila proses pembuangan tidak optimal dan toksin mulai merusak jaringan organ-organ vital. Dalam sejumlah hasil penelitian disebutkan kondisi racun berlebihan (toxicity) erat hubungannya dengan penuaan dini, menyebabkan terjadinya penyakit-penyakit degeneratif (liver, jantung, diabetes, kanker, dll.), dan menurunkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, racun harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Caranya, dengan detoksifikasi (detoks). Apa itu detoks? Detoksifikasi (detoks) adalah proses pengeluaran racun atau zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh. Puasa merupakan salah satu metode efektif detoksifikasi. Pembersihan dan detoks meningkatkan proses alamiah pengeluaran toksin dari dalam tubuh kita. Organ vital yang menjadi target dalam program pembersihan racun yang efektif adalah usus besar (pengeluaran) dan liver (detoksifikasi). Hampir semua penyakit degeneratif dapat dihubungkan dengan kondisi keracunan dalam saluran usus (intestinal toxemia). Mengapa? Karena setiap jaringan dalam tubuh mendapatkan makanan dari darah, dan darah mendapatkannya dari usus. Setiap zat yang masuk ke dalam tubuh kita akan terserap ke dalam darah melalui dinding-dinding usus. Artinya, toksin yang berada di usus juga akan ikut beredar bersama aliran darah sampai ke sel-sel di seluruh penjuru tubuh kita. Toksin-toksin inilah yang menyumbangkan terjadinya berbagai kondisi penyakit kronis, akut, dan degeneratif. Begitu juga menurunnya tingkat energi dan penuaan dini.


DETOKS & MANFAATNYA

Salah satu penyebab terbesar terjadinya tokxemia pada usus adalah kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dimasak secara berlebihan atau diproses, yaitu makanan-makanan yang tidak memiliki enzim lagi. Juga kebiasaan lebih banyak makan makanan pembentuk asam, yaitu protein (hewani), pati, lemak. Terlalu banyak menyantap makanan sumber protein (hewani), pati, dan lemak mengakibatkan tubuh mengalami asidosis, yakni kondisi keasaman darah dan jaringan tubuh berlebihan.

Asidosis dapat menimbulkan peradangan pada berbagai jaringan dalam tubuh, menyebabkan butir-butir darah melekat satu sama lain, atau terbentuknya jejaring serabut-serabut halus (fibrin) dalam darah. Jejaring serabut-serabut ini yang memberi kesan seolah-olah darah menjadi pekat. Serabut-serabut ini mengakibatkan peredaran sel-sel darah terganggu, sehingga pasokan zat makan dan oksigen ke sel-sel jaringan tubuh lainnya terhambat.

Tubuh kita dikaruniai enzim-enzim yang diperlukan oleh berbagai fungsi metabolisme dalam tubuh dalam jumlah terbatas, termasuk proses pencernaan. Tubuh tidak akan menggunakan enzim-enzim ini apabila makanan yang kita makan masih memiliki enzim. Terus-menerus menggunakan enzim tubuh akan menghabiskan energi dan menyebabkan peradangan pada pankreas. Pankreas adalah organ vital yang memproduksi enzim-enzim pencernaan pada usus kecil. Gangguan pada pankreas menyebabkan pencernaan tidak lancar dan tubuh semakin banyak memproduksi ampas. Usus besar tidak memiliki kemampuan untuk mencerna makanan. Tubuh akan memadatkan makanan yang tidak tercerna ke sepanjang dinding usus halus. Secara alami proses ini akan mengundang pengeluaran lendir dari sistem kekebalan tubuh yang ada pada dinding-dinding usus. Kondisi ini akan mengakibatkan sembelit (sulit buang air besar) dan penyumbatan pada saluran usus besar.

usus-penuh-toksin

Setelah beberapa waktu, kotoran ini akan membusuk dan menghasilkan gas beracun. Gas lebih mudah terserap melalui pori-pori halus pada dinding usus, mengalir dalam darah dan masuk ke sel-sel tubuh dan sewaktu-waktu siap menimbulkan penyakit. Pembersihan besar-besaran alias detoksifikasi yang dilakukan secara berkala, perlu bagi tubuh kita. Selain untuk mengurangi ampas-ampas beracun dari dalam tubuh, tidak ada organisme pembawa penyakit atau virus yang tahan dalam tubuh yang bersih. Terapi detoks paling tua dan sudah ratusan tahun dilakukan oleh manusia adalah puasa.

Dengan pola makan yang lebih sederhana dan alami saja, manusia dahulu sudah mengerti bahwa sekali waktu tubuh perlu detoks. Detoks seharusnya menjadi lebih penting bagi manusia modern dengan pola makan yang cenderung menimbulkan ampas lebih banyak dan penyumbatan-penyumbatan pada sistem tubuh.

Toksin mengakibatkan proses penuaan dan kerusakan lebih cepat pada seluruh sel tubuh. Waktu tidak ada hubungannya dengan penuaan. Penuaan atau proses degenerasi semata-mata adalah karena toksin dan dehidrasi yang kita tabung selama bertahun-tahun.

MANFAAT DETOKS BAGI TUBUH DAN KESEHATAN:

  • Meremajakan sel-sel sehingga kulit pun menjadi bersih, sehat, kencang, dan lembut.
  • Menurunkan kelebihan berat badan.
  • Meningkatkan energi.
  • Peningkatan indera penciuman, perasa, dan pendengaran.
  • Pengerutan tumor (jika ada).
  • Peradangan pada kelenjar getah bening hilang.
  • Melancarkan peredaran darah dan getah bening.
  • Memperbaiki daya ingat.
  • Menghilangkan gejala-gejala penyakit seperti alergi, sakit kepala, kembung, dsb.
  • Memperbaiki kadar gula darah dan tekanan darah.
  • Memperbaiki fungsi liver dan ginjal.
  • Meningkatkan daya tahan tubuh.